Batam | BENEWS – Warga Jemaat GBI Suara Kepastian kota Batam menangis dalam renungan Jumat Agung lalu. Bukan tanpa alasan, Bangunan Gereja GBI Suara Kepastian yang diharapkan akan menjadi tempat untuk memuji dan memuliakan Kristus, kini telah rata dengan tanah.

Pendeta Jefry Yandi Tambunan, M.th, Pendeta Jemaat GBI Suara Kepastian, Kepada BENEWS.Id mengungkapkan persoalan yang mengakibatkan pembangunan rumah Ibadah yang dibangun dengan swadaya warga jemaat, hilang tidak berbekas, dibongkar secara sepihak.
“Kami tidak tahu siapa yang membongkar, bangunan yang sudah berdiri dengan pondasi dan tiang beton sejumlah 16 tiang, sudah rata dengan tanah,” ungkapnya.
Pada tanggal 15 Desember 2025, bangunan gereja GBI Suara Kepastian yang berlokasi di WA Heng Center, tepat di depan Kantor Lurah Bukit Tempayan, sedang dalam tahap pembangunan gedung permanen. Saat itu, progres pembangunan telah mencapai berdirinya 16 tiang serta pembangunan dinding setinggi ±1 meter menggunakan batako.
Namun demikian, bangunan tersebut kemudian mengalami penggusuran tanpa adanya pemberitahuan resmi sebelumnya kepada pihak gereja, serta tanpa adanya pemberian ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan.
“Sejak kejadian tersebut, hingga saat ini saya masih berupaya menahan dan meredam keresahan warga jemaat yang merasa dirugikan dan keberatan atas tindakan penggusuran yang dilakukan secara sepihak,” kisah pendeta Jefri.
Dilanjutkannya, Sampai dengan hari ini, Selasa 7 Maret 2026, tidak ada tanggapan serta solusi, kejelasan, maupun realisasi tanggung jawab dari pihak pengembang Perumahan Belinyang City terkait permasalahan tersebut.
Sudah berulangkali kami Surati, bahkan melalui pesan WhatsUpp (Wa) melalui pak David manager operasional perusahaan, mengungkapkan telah dilakukan pembayaran sagu hati melalui koordinator yang diakui sebagai penjaga lahan dimaksud.
“ironisnya, dari total yang dibayarkan kepada koordinator, Jhon yang menerima uang sagu hati dari pengembang, mengaku sebagai pengawas lokasi, mengakui tidak ada Item ganti rugi untuk bangunan rumah ibadah GBI Suara Kepastian,” ungkap Pendeta Jefri.
Pendeta Jefri berharap, Bu Lina sebagai Pengembang lokasi, melalui perantara Manager Operasional Pak David yang juga merupakan Hamba Tuhan, berkenan membuka hati untuk memahami “beban persoalan dan tekanan dari Jemaat”kepada dirinya agar dapat memberikan solusi penyelesaian. (Mato)















