Ada kegelisahan yang mengendap dalam sanubari banyak relawan Jokowi, terutama mereka yang sejak awal percaya bahwa politik bisa dimenangkan oleh kejujuran, kerja nyata, dan keberpihakan pada rakyat kecil. Kegelisahan itu bernama: *ARAH BARU PROJO.*
Organisasi relawan yang lahir dari rahim rakyat untuk mendukung Joko Widodo kini berada di simpang jalan. Menjelang Kongres PROJO yang kabarnya akan digelar dalam waktu dekat, muncul wacana bahwa PROJO akan berubah haluan. Dari “Pro Jokowi” menjadi barisan militan pendukung Prabowo Subianto. Wacana ini tak hanya mengejutkan, tetapi mungkin saja akan menyayat sejarah.
Sebuah kapal bisa berlayar jauh, tetapi ia akan tersesat jika melupakan pelabuhan asalnya.
PROJO adalah organisasi yang lahir bukan karena uang, bukan karena kekuasaan, tapi karena *HARAPAN*. Harapan bahwa politik bisa dijalankan oleh orang biasa dengan cara luar biasa, itulah Jokowi. Ia bukan sekadar sosok, ia adalah *simbol perubahan, ikon kejujuran, dan representasi rakyat biasa.*
PROJO Adalah Anak Kandung Jokowi
Berdiri pada tahun 2013, PROJO menjadi mesin kemenangan Jokowi di dua kali pilpres. *Budi Arie Setiadi* sebagai Ketua Umum, membawa PROJO menjelma menjadi kekuatan moral dan gerakan rakyat. Di setiap pelosok desa, relawan PROJO mengetuk pintu, menyebarkan semangat perubahan, bukan amplop.

Jadi ketika kini ada dorongan untuk mengubah PROJO menjadi organisasi pendukung Prabowo, pertanyaan moral terbesar adalah: apakah itu masih PROJO? Apakah itu masih “Pro Jokowi”? Atau hanya memakai namanya, tanpa lagi memiliki jiwanya?
“When the roots are deep, there is no reason to fear the wind.”
(Saat akarmu kuat, tak perlu takut diterpa angin)
– Pepatah lama –
PROJO memiliki akar yang dalam di tanah perjuangan Jokowi. Jika akar itu dipotong, yang tumbuh bukan lagi pohon yang sama, melainkan entitas lain yang kehilangan karakter aslinya.
Dan *saya meyakini*, kita yang tergabung di PROJO hari ini, dari Aceh hingga Papua, dari pasar tradisional hingga kampus-kampus, dari pesisir Natuna hingga kaki Gunung Merbabu, datang dengan alasan yang sama: *JOKOWI.*
Kita bukan sekadar berkumpul di bawah panji organisasi. Kita datang dengan keyakinan yang sama: *bahwa politik bukan alat dagang kekuasaan, tapi jembatan pengabdian.* Kita menyatu dalam nama seorang pemimpin yang membuktikan bahwa kesederhanaan bisa mengalahkan kemewahan, bahwa kerja bisa mengalahkan citra, bahwa ketulusan bisa melampaui strategi.
Jokowi bukan sekadar presiden. *Ia adalah kisah yang hidup dalam hati kita.* Ia adalah alasan kenapa kita bertahan ketika angin badai menghantam, ketika lawan menertawakan semangat kita, ketika keringat mengucur dan jalan sepi. *Jokowi adalah alasan kenapa relawan tak pernah menyerah, bahkan ketika harapan terasa jauh.*
Ia adalah alasan kenapa pintu-pintu rakyat diketuk bukan dengan janji, tapi dengan keyakinan. Kenapa baliho-baliho berdiri bukan karena sponsor, tapi karena gotong royong. Kenapa langkah kaki menempuh dusun-dusun jauh tanpa berharap apa-apa selain perubahan nyata.
Kita datang karena percaya, bahwa nama “Jokowi” bukan sekadar identitas politik, tapi semacam cahaya moral yang membuat kita merasa: perjuangan ini suci.
Dan karena itulah, jika hari ini PROJO ditarik untuk berpaling, maka yang terluka bukan hanya struktur, *TAPI KEYAKINAN.* Dan luka pada keyakinan jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka karena kalah dalam pemilu.
Prabowo Bukan Rumah Awal PROJO
Ini bukan soal menolak Prabowo. Bahkan, penting untuk ditegaskan: *PROJO tetap menghormati dan loyal kepada Presiden Prabowo Subianto*. Loyalitas itu tidak perlu diragukan. Kita berkomitmen penuh untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo hingga tuntas, dengan dedikasi dan semangat kolaboratif.
Namun, loyalitas tak harus melupakan asal-usul.
Kita bicara integritas sejarah dan konsistensi gerakan. *PROJO bukan dibentuk untuk sekadar mendukung siapa yang berkuasa. Ia dibentuk untuk mendukung Jokowi dan gagasannya.* Prabowo adalah presiden pilihan rakyat, dan sebagai relawan yang telah berproses dalam demokrasi, kita menghormati pilihan itu. *_Tapi dalam penghormatan itu, kami tidak boleh kehilangan arah sejarah kami._*
Relasi PROJO dengan Prabowo adalah relasi politik, dalam konteks posisi dan kerja sama. *Tapi relasi dengan Jokowi adalah relasi batin. Ada akar, ada darah, ada perjalanan bersama yang tak bisa dihapus oleh lembar kekuasaan baru.
Kalau hari ini PROJO berdiri di garis depan Prabowo, apakah *esok lusa* akan dengan mudah pula *berpindah* ke siapa pun yang kuat? Maka kita mesti bertanya:
*DI MANA GARIS MERAH KITA?*
Gibran: Jalan Transformasi yang Masuk Akal
Kalau PROJO memang merasa perlu bertransformasi, logika paling konsisten adalah beralih dari Jokowi ke *Gibran Rakabuming Raka.* Gibran adalah darah daging Jokowi. *_Ia melihat politik dari lensa ayahnya: kerja nyata, blusukan, solusi, bukan retorika._*
Lebih dari itu, mendukung Gibran adalah *bentuk estafet moral,* bukan sekadar pragmatisme. Bila PROJO ingin terus hidup sebagai gerakan rakyat dengan akar Jokowi, maka Gibran-lah yang layak menjadi titik tumpu berikutnya. *BUKAN YANG LAIN.*
“Seperti matahari yang tak memilih siapa yang ia sinari, Jokowi menerangi seluruh pelosok tanpa tebang pilih. Gibran mewarisi sinar itu. Maka PROJO harus jadi cahayanya.*
Saya meyakini, romansa yang pernah kita toreh dulu akan berulang. *Sejarah akan kita ukir kembali.*
Barangkali memang belum semua melihat, belum semua yakin. *Tapi bukankah dulu pun kita pernah memulai dari ruang ragu yang sama?*
Saat Jokowi melangkah untuk pertama kalinya ke pentas nasional, banyak yang menertawakan. Namun sejarah bukan soal siapa yang paling lantang, *melainkan siapa yang paling setia melangkah.*
Romansa itu kini datang kembali dalam wajah muda yang baru. Gibran bukan sekadar anak seorang presiden. *Ia adalah bab selanjutnya dari cerita yang belum selesai.*
*Dan kita semua tahu: cerita itu akan terus ditulis, sampai pada akhirnya sejarah mencatatnya dalam lembar yang sama, dengan keyakinan yang tak pernah padam.*
Jangan Menjadi Kosong dalam Nama Besar
Ada pepatah Jawa: *urip kudu ngerti sapa sing nglairke*.
(Hidup harus tahu siapa yang melahirkanmu.
PROJO, janganlah menjadi entitas kosong dalam nama besar. Jangan mendaku “Pro Jokowi”, tapi menjilat arah kekuasaan sesuka hati. *Karena kekuasaan bisa berganti, tapi nilai tak bisa diganti.*
Jika PROJO ingin menjadi kekuatan politik, maka jadilah warisan gerakan moral, bukan sekadar alat mobilisasi elektoral.
Jalan Pulang Masih Terbuka
Saya, *Ibal Zulfianto*, bukan siapa-siapa. Hanya seorang pemuda yang jatuh cinta pada Jokowi sejak membaca sebuah artikel kecil tentang *“Wali Kota Blusukan”* di Solo lebih dari dua dekade lalu. Cinta itu tumbuh, dan menjelma menjadi keyakinan bahwa politik bisa punya hati. *Bahwa kekuasaan bisa dipakai untuk melayani, bukan dilayani.*
Saya lahir dan tumbuh di sebuah gugusan pulau yang terbuka pada angin sejarah dan arus global, yang bernama *Belakang Padang*, di Kota Batam, Kepulauan Riau, negeri maritim yang berhamparan dan berhadapan langsung dengan Singapura. Dari tanah perbatasan itu, saya melihat bagaimana wajah Indonesia diperjuangkan dari pinggir. Dan dari sanalah, saya meyakini: *pemimpin seperti Jokowi adalah berkah yang harus dijaga.*
Keyakinan itu yang membawa saya menapaki jalan sunyi perjuangan relawan. Dari mengorganisir obrolan warung kopi hingga mengetuk pintu-pintu rakyat yang mungkin tak mengenal nama saya, tapi mengenali niat baik yang saya bawa. Pernah pula, dalam malam-malam sepi, saya merangkai kata, bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyampaikan kebenaran, bukan di mimbar megah, tapi di ruang-ruang kecil tempat suara hati lebih nyaring dari suara jabatan.
Hari ini, semesta menjawab perjalanan itu: saya dipercaya memegang amanah sebagai Ketua DPD PROJO Kepulauan Riau.
Tapi jabatan itu bukan mahkota. Ia adalah kompas moral. *Ia adalah pengingat bahwa saya, dan kita semua di PROJO, tak boleh lupa rumah pertama kita: JOKOWI.*
Saya menulis ini bukan untuk menolak arah baru. Tapi untuk mengingatkan: *jika kita harus berjalan lebih jauh, jangan pernah melupakan dari mana langkah pertama dimulai.* Kalau harus berubah, berubahlah seperti pohon yang bertumbuh ke langit tapi tetap mencium tanahnya. Jangan jadi daun kering yang tertiup angin kekuasaan, kehilangan ranting, apalagi batang.
- Mari, para pengurus, kader, dan simpatisan PROJO: *Ingatlah rumahmu. Rumah itu bernama Jokowi.*
- Dan jika suatu hari kamu harus melangkah keluar rumah, bawalah darah yang sama.
Bawalah Gibran, bukan sekadar kekuasaan
*“You don’t turn your back on family.” (Kau tak berpaling dari keluargamu)* _Dominic Toretto, Fast & Furious_
*Dan bagi PROJO, Jokowi adalah keluarga.*
*“PROJO bisa besar, tapi jangan lupa siapa yang membesarkannya.”*
Semoga di kongres mendatang, teman-teman pengurus, para pemilik kedaulatan tertinggi organisasi, dapat terus menjaga semangat dan nilai dari apa yang selama ini kita yakini.
Yakni semangat untuk berdiri bersama rakyat. Nilai untuk tetap rendah hati di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. *Dan keyakinan bahwa politik bukan hanya soal menang dan kalah, tapi tentang menjaga warisan nilai, tentang membela nurani.*
Karena di balik semua perjuangan ini, ada harapan yang terlalu mulia untuk dikhianati: harapan rakyat kecil yang pernah percaya pada perubahan.
Tulisan ini bukan untuk mengajak, apalagi menggiring siapa pun. Bukan pula untuk membelah. Ini hanya suara lirih dari pinggiran negeri, sebuah ajakan pelan untuk merenung, sekali lagi. *Merenung tentang dari mana kita memulai, dan ke mana arah ini kita bawa.*
Jika PROJO lahir karena cinta kepada pemimpin yang bekerja dalam diam, maka biarlah ia tetap hidup karena kesetiaan pada nilai-nilai yang sama.
Karena pada akhirnya, bukan baju organisasi yang kita bela, tapi jiwa yang dulu membuat kita bangga menyebut diri: *Pro Jokowi.*
Penulis : Ibal Zulfianto
Ketua DPD PROJO Kepulauan Riau
Pemuda dari tanah seberang, dari pulau-pulau yang menghadap Singapura, tempat cinta pada negeri ini diperjuangkan dari batas, tapi setia sampai pusat.
















Respon (1)
Komentar ditutup.